Facebook Twitter Flickr LinkedIn YouTube E-mail
Home 2 Minutes Belajar dari Seorang Tuna Netra
formats

Belajar dari Seorang Tuna Netra

by

Sabtu sore ini saya pergi ke sebuah mall di daerah Tangerang. Saya hendak service laptop saya yang rusak sejak seminggu lalu. Saat sedang menunggu saya service laptop, datanglah 2 orang laki-laki tuna netra paruh baya dan 2 orang anak laki-laki melangkah menghampiri toko. Heran adalah reaksi pertama saya ketika melihat mereka. Salah seorang laki-laki tuna netra memanggil penjaga  toko dengan arah pandang yang acak. Mas penjaga toko menghampiri, lalu menanyakan apa yang diperlukan oleh lelaki tersebut. “Saya mencari keyboard untuk komputer”, sahutnya. “Ingin yang seperti apa pak keyboard-nya, yang wireless atau yang ada kabelnya?”, Mas penjaga menyambut. “ Saya inginkan keyboard yang tidak ada kabelnya, itu yang mana ya? Jual ga?”, jawab lelaki tersebut. Lalu pramuniaga tersebut mengambil keyboard yang dimaksud. Dilihat dari percakapannya lelaki ini tidak paham dengan penggunaan komputer. Banyak pertanyaan yang dia tanyakan, sampai akhirnya ia memutuskan untuk membeli satu buah keyboard dan mouse.

“Mas, tolong jelaskan bagaimana cara menggunakan ini..”, tanya lelaki itu sambil meraba-raba keyboard yang ada ditangannya. “Ya tinggal dicolok pak, ini ada seperti USB-nya dicolok di PC”, jawab Mas penjaga toko sembari memberikan USB tersebut kepada lelaki itu. lelaki itu mencoba mengenali bentuk USB itu dengan merabanya. “Soalnya saya ga ngerti mas cara pakainya, kalau mas jelaskan saya bisa kasih tahu kepada orang yang melihat”, kata lelaki itu sambil meraba-raba USB ditangannya.

“Ya sudah mas, saya mau ini, tapi dicoba dulu ya mas keyboard dan laptopnya”, sambung laki-laki tersebut sambil meraba-raba. “Nak, tolong coba ini keyboard dan mouse nya”, panggil Lelaki tersebut kepada salah satu anak, kira-kira umurnya 8 tahun. Singkat kata si anak mencoba keyboard dan mouse itu dan Mas penjaga memberitahu cara pemasangan dan penggunaan alat-alat tersebut kepada si anak. Mouse dan keyboard bekerja dengan baik.

Saya menghampiri bapak tersebut hanya sekedar ingin ngobrol “Wah belanja nih pak”. “ Iya untuk anak saya yang pertama, untuk sekolah”, sahutnya. “Anaknya sekolah dimana pak?”, tanya saya lagi. “ sekolah di *** (dia menyebut sebuah nama sekolah), iya masa ayahnya sudah bodoh jangan sampai anaknya bodoh tidak sekolah”, jawab bapak itu sambil tersenyum lalu mengeluarkan uang dari sakunya untuk bersiap membayar barang yang ia beli. “Berapa mas semuanya?”, tanyanya. “ Rp. 347.000, pak”.  Lelaki tadi  mengeluarkan dua lembar uang Rp.50.000 dan beberapa lembar uang kertas pecahan Rp. 20.000 dan Rp.10.000 dari buntelan uang yang dia bawa dan dia ikat dengan karet.

Saya kemudian berpikir, bagaimana bila kita berada di posisi tuna netra tersebut? Seberapa mudah kita bisa percaya kepada orang baru?

Saya sering kali tidak percaya kepada orang lain untuk mengerjakan pekerjaan, sehingga gagal mendelegasikan tugas saya kepada orang lain. Jika kita berada di posisi seorang yang tuna netra tidak dapat melihat apa-apa, mau tidak mau kita harus mengandalkan  orang lain untuk membantu kita. Selama ini kita percaya hanya pada apa yang kita lihat. Tidak pernah mendengar apa yang hati katakan, suara hati semakin jauh karena tidak pernah terdengar.

Bukan hanya belajar tentang mendelegasikan tugas, saya juga kagum akan sikapnya yang rajin. Sebagai orang normal, saya masih suka bermalas-malasan untuk belajar dan mengetahui berbagai informasi. Namun bapak  itu dengan keterbatasannya ia masih tetap semangat. Dengan segala keterbatasan yang ia miliki bapak tadi tidak melepaskan tanggung jawab seorang ayah. Saya jadi belajar bahwa sesulit apapun orang tua, pasti yang ingin orang tua lakukan adalah membahagiakan anak-anaknya, seperti yang dilakukan oleh bapak tadi. Walaupun hanya memiliki uang pas-pasan namun dia tetap ingin memfasilitasi anaknya dengan menggunakan perangkat yang terbaik. Begitupun dengan orang tua saya yang pastinya seperti itu, namun terkadang hasil yang saya berikan tidak baik malah sering kali buruk. Berkaca bahwa diri saya yang sempurna secara fisik tidak memiliki hal-hal yang mereka miliki.
__________________________________________________________

Tulisan dibuat oleh : Eras Praghita – 12912106

Sumber gambar.

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>